SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Suara PAN Semakin Anjlok, Siapkah Zulhas Tancap Gas di Pemilu 2024?

fecfde9d 4fbc 4a3d 8ac3 2f9cdd800da8
Relawan Ganjar Biru di acara Kolaborasi Relawan Ganjar Pranowo bertajuk Sumpah Relawan Dukung Total Ganjar Pranowo RI-I, Jumat (30/10)

ADA dua partai dengan pemilihnya berpotensi bergeser ke partai politik (parpol) lain, yaitu PPP dan PAN. Dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas yang berlangsung 24 September-7 Oktober, angka pergeseran atau volatilitas pemilih PPP di angka 61,1 persen. Sedangkan volatilitas pemilih PAN adalah 59,4 persen.

“Hampir separuh pemilihnya masuk kategori lebih cair untuk berpindah pilihan,” ujar peneliti Litbang Kompas Yohan Wahyu, dikutip dari Harian Kompas, Senin (25/10/2022).

Yohan Wahyu mengungkapkan, pemilih PPP cenderung beralih ke parpol berbasis Islam lainnya. Sementara itu, responden pemilih PAN cenderung akan banyak yang bergeser ke Partai Demokrat.

Baca JugaPidato Lengkap Jokowi Berikan Arahan Pejabat Polri hingga KapolresPidato Lengkap Jokowi Saat Sambutan Pembukaan KTT G20 di Bali: Recover Together, Recover Stronger

Angka volatilitas kedua parpol meningkat tajam jika dibandingkan pada survei yang sama pada Juni 2022.

Kala itu, volatiltas pemilih PAN hanya berada di angka 38,5 persen, dan PPP di angka 37,7 persen.

Baca JugaKorban Tragedi Halloween di Itaewon: 153 Orang Meninggal Dunia, 20 WNAPolisi Selidiki Temuan Mayat Satu Keluarga di Dalam Rumah, Tunggu Hasil Autopsi

Yohan mengungkapkan tingkat volatiltas juga ditentukan oleh keputusan parpol mengusung kandidat capresnya.

“Apalagi, survei juga menangkap adanya potensi ‘perlawanan’ dari pemilih partai jika harapan mereka terhadap sosok calon presiden yang diidamkan tidak sesuai dengan calon presiden pilihan partai yang ia pilih,” kata Yohan.

Survei Litbang Kompas: Loyalitas Pemilih PDI-P dan PKS Menurun (Litbang Kompas/RFC/YOH)
Survei Litbang Kompas: Loyalitas Pemilih PDI-P dan PKS Menurun (Litbang Kompas/RFC/YOH)

Baca JugaKorban Tewas Perayaan Halloween di Itaewon Jadi 151 Orang, Sebagian Besar RemajaBerikut Nama 9 Hakim PN Jaksel untuk Adili Tersangka Kasus Pembunuhan Berencana Brigadir J serta Kasus Obstruction of Justice

Sementara, pemilih Partai Amanat Nasional ( PAN ) tercatat paling banyak yang memutuskan untuk memindahkan pilihan politiknya ke partai politik lain. Hal ini terpotret dalam hasil survei yang dilakukan lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2022 ini. Dalam data yang dirilis lembaga SMRC, terlihat jelas ada pergeseran pilihan partai dari Pemilu 2019.

“Rata-rata ada 31% dari pemilih partai (yang ada di parlemen) yang pindah ke partai lain jika pemilu diadakan sekarang (tidak setia). Rata-rata yang setia ada 58%, dan yang belum menentukan pilihan 11%,” bunyi hasil survei SMRC yang diterima, Minggu (30/10/2022).

Indonesian Political Watch Bondhan W menilai, pindahnya anggota DPR dari PAN ke Partai Ummat tidaklah mengejutkan. Pasalnya, peluang PAN masuk Senayan pada Pileg 2024 memang relatif kecil.

Baca JugaKim Jong-un Ajak Putrinya Tinjau Uji Coba Rudal ICBM Korea Utara yang Bisa Jangkau Wilayah ASBeranikah Hasto Keluarkan Ganjar dari PDIP?

Bondhan menyebut, hasil survei dari lembaga survei yang kredibel memperlihatkan elektabilitas PAN dibawah empat persen. Elektabilitas tersebut membuat peluang PAN sangat kecil untuk tetap bertahan di Senayan.

“Karena itu wajar kalau kader PAN yang potensial meraup suara besar akan meninggalkan partainya. Mereka akan sia-sia memperoleh suara besar tapi tidak bisa menjadi anggota DPR RI bila elektoral partainya tidak cukup masuk Senayan,” ujar Bondhan di Jakarta, Senin, 31 Oktober.

“Untuk itu, mereka akan mencari partai yang terbuka kepada kader kutu loncat. Partai yang dicari tentulah yang dapat memuluskan keinginan mereka,” lanjutnya.

Baca JugaUsai Pemakaman Brigadir J, Ditelepon Orang Tidak Dikenal Minta Keluarga Yosua Tidak Bicara ke MediaPSI Umumkan Ganjar Pranowo-Yenny Wahid Capres 2024, Capres-Cawapres 2024

Bondhan menilai, Partai Ummat merupakan partai yang memenuhi kriteria tersebut. Sebab, partai besutan Amien Rais itu sangat terbuka kepada SDM yang berpeluang memperoleh suara besar dan terpilih menjadi anggota DPR RI.

Patut diketahui, PAN dan Partai Ummat tidak dapat dilepaskan dari figur sentral Amien Rais—yang merupakan tokoh utama yang di balik pendirian PAN dan Partai Ummat.

Di samping itu, PAN dan Partai Ummat juga pasti akan saling merebut hati calon pemilih dari kelas menengah. Termasuk memperebutkan basis suara dari warga Persyarikatan Muhammadiyah.

Baca JugaDilaporkan 3.000 Laporan Orang Hilang, Polisi Korea Selatan Dalami Penyebab Tragedi Halloween di ItaewonLaporan Harta Penyelenggara Negara, Berikut Kekayaan Wahyu Iman Santoso, Hakim yang Pimpin Sidang Ferdy Sambo

Meski dalam khittah-nya Muhammadiyah menyatakan sebagai gerakan nonpolitik, namun publik memahami bahwa ada hubungan emosional antara PAN dan Muhammadiyah. Bahkan sebagian orang terlanjur memahami bahwa PAN merupakan partai utama Muhammadiyah.

Pandangan ini terasa tidak terlalu salah. Apalagi realitas di sejumlah daerah seringkali menunjukkan bahwa warga Muhammadiyah merupakan penyumbang suara terbesar PAN.

Semua itu tentu tidak lepas dari hubungan emosional dan historis Muhammadiyah dan PAN. Terutama pada saat periode awal pendirian PAN. Bahkan Amien Rais yang saat itu menjadi Ketua (Umum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah langsung tampil memimpin PAN.

Baca JugaSopir Ambulans Lihat Jasad Brigadir J, Wajah Yosua Masih Kenakan Masker dan Tubuhnya Berlumuran DarahPengacara: Ferdy Sambo Sempat Memperlihatkan Amplop, Kuat Ma’ruf Tidak Tahu Isinya

Lebih lanjut, Bondhan memaparkan Partai Ummat jelas menempatkan ketokohan Amien Rais sebagai magnet. Dalam konteks ini kemungkinan terjadinya kanibalisme antara PAN dan Partai Ummat sangat mungkin menjadi kenyataan.

Dengan demikian, kelahiran Partai Ummat jelas menjadi ancaman serius PAN. Karena itulah jangan heran jika nanti Partai Ummat lolos verifikasi hingga menjadi kontestan pemilu, maka Partai Ummat bisa mereduksi perolehan suara PAN. Jika itu terjadi, posisi PAN tentu sangat rawan. Bahkan PAN bisa jadi tidak lolos ambang batas perolehan suara (electoral threshold).

Kondisi yang sama juga bisa dialami Partai Ummat. Hal itu terjadi, sekali lagi, karena suara yang diperebutkan PAN dan Partai Ummat nyaris sama dan tidak terlalu banyak. Sebagai partai baru, apalagi tidak didukung dana yang cukup, tentu akan sangat berat bagi Partai Ummat mengarungi rivalitas antarpartai yang sangat keras.

Baca JugaFakta Seputar Penembakan Novita Kurnia Putri di TexasSurat Dakwaan Tersangka Kasus Pembunuhan Berencana Ferdy Sambo Ungkap Brigadir J Temui Putri Candrawathi di Kamar 15 Menit Atas Perintah RR

Jika kondisinya seperti itu, maka PAN dan Partai Ummat bisa sama-sama tidak lolos electoral threshold. Dampaknya, representasi politik kelompok Islam modernis akan semakin tergerus. Kondisi ini dapat mengakibatkan posisi tawar kelompok Islam modernis tidak lagi diperhitungkan dalam kancah politik nasional. (*)

 

Kirim Komentar