SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Sri Mulyani Indrawati Ingatkan Dunia Saat Ini dalam Kondisi Bahaya

1148360 720
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memimpin the 8th Ministerial Meeting of Coalition of Finance Minister for Climate Action di Washington D.C., 12 Oktober 2022. Instagram/Sri Mulyani

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan kepada seluruh menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara yang menjadi anggota G20 bahwa dunia saat ini dalam kondisi bahaya.

Peringatan ini dia sampaikan saat memberikan kata sambutan dalam acara 4th Finance Ministers and Central Bank Governor (FMCBG) Meeting di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu waktu setempat.

“Saya pikir saya tidak berlebihan mengatakan bahwa dunia saat ini dalam kondisi yang berbahaya,” kata dia seperti dikutip dari tayangan YouTube Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, Kamis, 13 Oktober 2022.

Baca JugaHasil Investigasi TGIPF: Pensiunan Jenderal Tekan Kapolres Malang, Jadwal Arema vs Persebaya Main MalamPria Berompi Hitam, Dua Unit Gas Melon, Alat Penyembur Api Diamankan Usai Kebakaran Gedung Bappelitbang Kota Bandung

Sri Mulyani mengatakan, tanda bahaya ini harus dihadapi dunia karena munculnya berbagai risiko perekonomian akibat tingginya angka inflasi, lemahnya pertumbuhan ekonomi, krisis energi dan pangan, perubahan iklim, hingga perpecahan geopolitik.

“Perang yang terjadi di Ukraina semakin membuat krisis pangan dan nutrisi terjadi akibat harga-hara energi bergejolak dan harga pangan naik tinggi. Membuat adanya kebijakan pembatasan perdaganagn dan disrupsi pada rantai pasok,” ujar Sri Mulyani.

Baca JugaSejumlah Fakta Berupa Chat Satu Arah Penuh Emosi Negatif di Ponsel Keluarga KalideresKorban Tragedi Halloween di Itaewon: 153 Orang Meninggal Dunia, 20 WNA

Kondisi ini semakin buruk karena negara-negara dunia masih dalam tahap pemulihan dari dampak Pandemi Covid-19. Di tengah pemulihan yang masih rentan, negara-negara di dunia dikejutkan dengan permasalahan perubahan iklim yang membuat harga pangan kian melambung.

Peperangan yang terjadi di Ukraiana, menurut bendahara negara ini, semakin memperburuk keadaan karena pasokan energi terputus yang berakibat pada krisis energi. Pasokan yang semakin minim ini membuat harga-harga energi melambung tinggi dan mengancam ketahanan energi banyak negara.

“Harga energi yang membuat shock ini berakibat terhadap banyak negara, khususnya negara-negara berkembang yang masih sangat bergantung pada impor energi, Akibatnya mereka kesulitan mengakses pasokan energi dari negara-negara penghasilnya,” kata Sri Mulyani.

Baca JugaTerbukti Rugikan Negara hingga Rp22,7 Triliun di Kasus Asabri, Benny Tjokro Dituntut Hukuman MatiPria Berompi Hitam, Dua Unit Gas Melon, Alat Penyembur Api Diamankan Usai Kebakaran Gedung Bappelitbang Kota Bandung

Seluruh kondisi risiko yang menyebabkan dunia dalam bahaya itu kata Sri membuat bank sentral di banyak negara memutuskan untuk memperketat kebijakan moneternya dengan cara meningkatkan suku bunga acuan secara cepat dengan harapan bisa meredam tingginya inflasi.

“Tapi ini memberikan spill over ke seluruh dunia. Naiknya suku bunga acuan dan mengetatnya likuiditas membuat risiko semakin meningkat dan menyulitkan ekonomi bukan hanya negara berpendapatan rendah dan menengah, tapi juga negara maju,” ujar Sri Mulyani. (*)

Kirim Komentar

Ketika Sains Melihat Hantu Kenapa Indonesia Tak Dijadikan Negara Islam Saja? Terungkap Alasan Hepatitis Akut Disebut Misterius