SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Rekonstruksi Tragedi Kanjuruhan 30 Adegan Tak Ada Gas Air Mata ke Arah Tribun, Beda dengan Temuan TGIPF

i6DgFXtak ada penembakan gas air mata ke tribun saat rekonstruksi tragedi kanjuruhan
Polisi melakukan rekonstruksi tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, di Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (19/10/2022). Dalam rekonstruksi itu terdapat 30 adegan penanganan kerusuhan di dalam Stadion Kanjuruhan, Malang. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/tom.

REKONSTRUKSI tragedi Kanjuruhan rampung digelar di lapangan bola Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Rabu (19/10). Sebanyak 30 adegan diperagakan.

Namun, dalam proses rekonstruksi itu, tak ada gas air mata yang ditembakkan polisi ke arah tribun penonton di Stadion Kanjuruhan. Pada reka adegan 19 hingga 25, tembakkan gas air mata hanya diarahkan ke sentel ban atau lintasan lari sisi selatan.

“Adegan ke 19, sekitar 22.09 atas perintah tersangka Hasdarmawan, saksi menggunakan senjata laras kaliber 38 mm menembakkan satu kali dengan amunisi warna biru ke arah sisi selatan,” kata penyidik melalui pengeras suara.

Baca JugaIngin Tahu Jumlah Pemain Game di Dunia? 11 Kali 275 Juta Jiwa Warga IndonesiaAlasan Ambil Pisau Usai Kejadian Keributan dengan Brigadir J, Kuat Ma’ruf Sebut Dengar Teriakan Susi dari Kamar Putri Candrawathi

“Selanjutnya saksi MKI menembakkan satu kali dengan amunisi warna silver ke arah sentel ban lintasan lari selatan belakang gawang,” lanjut penyidik.

Adegan dalam rekonstruksi ini berbeda dengan temuan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan yang menyatakan polisi menembakkan gas air mata secara tak terukur ke arah tribun penonton.

Baca JugaPresiden Jokowi Resmi Terbitkan Aturan Larangan Pembangunan PLTU BaruPidato Perdana Menteri Israel Yair Lapid di Sidang Majelis Umum PBB: Dukung Negara Palestina

TGIPF juga mengatakan gas air mata jadi faktor utama jatuhnya korban tewas dan luka-luka dalam insiden di Kanjuruhan. Penonton panik, berlarian, dan berdesak-desakan menuju pintu keluar hingga terinjak-injak.

Saat ditanya soal kejanggalan dalam rekonstruksi, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan hal itu merupakan materi penyidikan berdasarkan keterangan para tersangka dan saksi.

“Secara materi penyidikan, itu penyidik yang akan menyampaikan. Kalau misal tersangka mau menyebutkan seperti itu [tidak menembak ke arah tribun], itu haknya dia, tersangka punya hak ingkar,” kata Dedi di Mapolda Jatim.

Baca JugaMengapa Paket Petasan Itu Meledak di Asrama Polri Sukoharjo, Begini Penjelasan Kapolda Jawa TengahMahfud Md Bentuk Tim Independen Gabungan Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan

Dedi mengatakan penyidik memiliki keyakinan sendiri. Ia menuturkan segala kesaksian dan alat bukti yang didapatkan penyidik akan dipertanggungjawabkan di pengadilan.

“Dengan seluruh kesaksian kemudian alat bukti yang dimiliki penyidik, nanti penyidik akan dipertanggungjawabkan baik kejaksaan maupun dalam persidangan,” katanya.

Lebih lanjut, Dedi menuturkan dalam rekonstruksi ini penyidik gabungan Bareskrim Polri dan Polda Jatim fokus memperagakan peran ketiga anggota polisi yang jadi tersangka dalam tragedi Kanjuruhan.

Baca JugaSebelum Wafat di Malaysia, Azyumardi Azra Menulis ‘Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban’Tangan dan Kaki Ade Yunia Rizabani Terikat, Dipaksa Christian Rudolf Tobing Transfer Uang

Ketiganya yakni Kabagops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Danki 3 Sat Brimob Polda Jatim AKP Hasdarmawan, dan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi. Adapun total ada 6 tersangka dalam kasus ini.

“Rekonstruksi ini penyidik fokus tiga tersangka, yakni WS, BS dan H terkait Pasal 359 dan 360 KUHP, itu fokusnya,” ucapnya.

Selain menghadirkan tiga tersangka dalam rekonstruksi hari ini, polisi juga menghadirkan 54 orang saksi dan 30 pemeran pengganti sebagai suporter.

Baca JugaTerhalang Masuk DPR, Ketua IPW Batal Berikan Keterangan Private Jet Brigjen Hendra Kurniawan ke Mahkamah Kehormatan DewanTeka-teki Perempuan Bersenjata Api Terobos Penjagaan Istana Presiden

Dedi menegaskan Polri berkomitmen untuk menuntaskan kasus secara transparan, akuntabel, dan ilmiah. (*)

Kirim Komentar