SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Pulau Kelor, Tempat Pemakaman Penduduk dan Tentara VOC Sejak Tahun 1450

7351627f 14d4 4e3a 81a5 fd6e83d8a06a 1608719094501 41db7530a7fa30632d51926cc98eb956
Pulau Kelor

SETIAP destinasi wisata pasti memiliki sejarahnya masing masing. Begitu juga dengan pulau Kelor yang berada di salah satu gugusan kepulauan Seribu. Sejarah Pulau Kelor ini cukup panjang dan menyimpan perjuangan leluhur kita saat menghadapi kolonialisme Belanda. Ada banyak sekali bangunan bersejarah di dalamnya.

Pulau Kelor ini terletak tepat di pesisir barat Kepulauan Seribu. Secara administratif, Pulau satu ini menjadi bagian dari Kepulauan Seribu, Jakarta. Pulau ini terletak sangat berdekatan dengan Pulau Petondan Kecil, Pulau Petondan Besar, Pulau Onrust, Pulau Bidadari, dan wisata Pulau pari. Dibandingkan dengan pulau lain, pulau satu ini terbilang lebih kecil. Apalagi jika Anda melihatnya melalui peta.

Sejarah pulau Kelor selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Berbagai peninggalan kolonial di dalamnya memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti untuk berkunjung. Tidak hanya dari Indonesia, bahkan para peneliti ini datang dari luar negeri juga. Lantas apa saja sejarah pulau ini yang jarang orang ketahui? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Baca JugaKemenlu dan Ekspatriat Palestina Kutuk Agresi Brutal Israel di Jalur Gaza, Kolonial Rasis Anggap Palestina Tempat Latihan dan Target TembakKecelakaan Maut Truk Pertamina Tabrak Sejumlah Motor dan Mobil di Cibubur, Kronologi versi TNI AL

Asal Muasal Nama Pulau Kelor

Nama Pulau Kelor mulai populer sejak Belanda meninggalkan negeri ini. Dulunya pulau satu ini dinamai Pulau Keurkof dalam bahasa Belanda. Artinya adalah pulau Makam. Hal ini lantaran Belanda dan penduduk setempat menjadikannya sebagai makam. Sedangkan nama Kelor yang disematkan memiliki beberapa sebab.

Menurut penduduk setempat, Pulau satu ini dinamai Kelor karena didalamnya dulur terdapat banyak sekali tanaman kelor. Tapi kemudian tanaman tersebut hilang karena proses abrasi air laut yang sangat kuat. Hingga saat ini hanya ada beberapa saja tumbuhan kelor yang tumbuh di dalamnya.

Baca JugaLatihan Bersama Super Garuda Shield 2022, Personel Angkatan Darat AS Tampilkan Pesawat Tanpa Awak UAV Black HornetKuasa Hukum Keluarga Brigadir J: Ada Jejak Elektronik Dugaan Pembunuhan Berencana Berlangsung hingga Satu Hari Jelang Kejadian

Sedangkan menurut referensi kedua, nama Kelor pada pulau satu ini disebabkan oleh luasnya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan pulau lain. Karenanya sebagai bentuk satir, disematkanlah nama Kelor di belakang pulau sebagai representasi dari luasnya yang sangat kecil tersebut. Sejarah pulau kelor terkait namanya ini memang masih diperdebatkan hingga sekarang.

Benteng Martello, Saksi Bisu Pertahanan Maritim VOC

Perlu diketahui, pulau kelor ini memiliki banyak sekali peninggalan yang berasal dari masa lalu. Salah satu yang paling menarik perhatian para wisatawan adalah Benteng Martello yang berada di pesisir barat pulau ini. Benteng Martello ini merupakan daya tarik utama dari sejarah Pulau Kelor. Jika Anda berada di pulau lain yang berdekatan dengan pulau Kelor, Benteng satu ini bisa terlihat dengan Jelas.

Banyak yang mengatakan kalau benteng satu ini adalah buatan Belanda. Tapi ini tidak sepenuhnya benar. Dilihat dari konstruksi yang diterapkan, benteng satu ini adalah buatan para leluhur penduduk di pulau Kelor. Pasalnya bata yang dijadikan bahan baku pembuatan adalah bata merah. Bata merah ini merupakan salah satu ciri buatan dalam negeri.

Baca JugaDaden Miftahul Haq Sebut Ferdy Sambo Ucap ‘Tenang Saja Chad, Saya Bela Kamu Walau Pangkat Jabatan Taruhannya’ Usai Bharada E Tembak Brigadir JDraft RKUHP Bisa Diakses Publik, Klik Tautan di Laman Ini

Bata yang berasal dari Belanda berwarna lebih kekuningan dan berukuran lebih kecil. Benteng Martello ini merupakan saksi bisu betapa hebatnya para petugas konstruksi bangunan pulau kelor jaman dulu. Hanya saja karena dimakan oleh waktu, kondisi Benteng satu ini sudah mulai rapuh.

Berdasarkan sumber sejarah Pulau Kelor, Dulunya Benteng satu ini dipergunakan sebagai sarana pertahanan belanda dari serangan Portugis. Benteng mulai dibangun pada tahun 1850. Diceritakan, pembangunan benteng satu ini memakan banyak sekali korban. Pasalnya perbekalan yang diberikan juga sangat minimal. Jadi banyak pekerja yang kelaparan.

Benteng dengan ketinggian 15 meter ini memiliki terowongan khusus di bagian dalamnya. Hanya saja kita dilarang masuk ke dalamnya. Menurut mitos penduduk setempat, terowongan ini akan membawa kita ke tengah laut. Tapi belum ada penelitian yang valid terkait hal ini. Yang pasti, Benteng Martello ini merupakan bagian terpenting dalam sejarah pulau Kelor.

Baca JugaPerebutan Kekuasaan PKI-Musso di Madiun, Republik Soviet IndonesiaBeredar Video Saat Perdana Menteri Kanada Dimarahi Xi Jinping, Begini Penjelasan Justin Trudeau

Pulau Kelor Dulunya Pemakaman Penduduk dan Tentara VOC

Dari sejak tahun 1450 pada masa kolonialisme Belanda, Pulau Kelor ini dulunya merupakan tempat penduduk setempat memakamkan kerabatnya. Ada banyak juga tentara VOC yang dikebumikan di pulau satu ini. Hanya saja karena sudah tergerus waktu, makam tersebut hilang tidak ditemukan.

Konon makam tersebut masih ada di bawah tanah pasir putih yang diinjak oleh para wisatawan. Tak heran jika kemudian penduduk setempat menganggap kalau pulau satu ini sangat angker. Ternyata alasan satu ini yang menjadi penyebabnya.

Sampai saat ini belum ada penelitian khusus yang membuktikan ada banyak jenazah dibalik keindahan pulau satu ini. Tidak ada pula literatur sejarah Pulau Kelor yang mendukungnya. Saat ini pulau Kelor sendiri menjadi bagian dari cagar budaya dan dilindungi oleh pemerintah dibawah naungan Unit Museum Kebaharian Kota Jakarta.

Baca JugaKominfo Rencana Blokir Google, Instagram dan WhatsApp, Ada Apa?Polisi Tetapkan Manajer Bunga Citra Lestari Sebagai Tersangka Penggunaan Psikotropika

Ditinggalkan Pada Tahun 1883 Karena Gunung Krakatau Meletus

Pulau Kelor ini ternyata juga pernah menjadi pulau “hantu” pada tahun 1885 lalu. Pasalnya di tahun tersebut Gunung Krakatau meletus dengan sangat dahsyatnya. Karena letusan dahsyat ini, masyarakat setempat kemudian meninggalkan pulau tersebut untuk berpindah ke pulau lain yang lebih aman.

Letusan Gunung Krakatau ini pula yang kemudian merusak bentuk benteng Martello yang ada di dalamnya. Beruntung kerusakan yang ditimbulkan tidak menyebabkan kehancuran total. Hanya beberapa bagian saja yang mengalami kerusakan parah dan masih bisa di perbaiki tanpa mengurangi nilai sejarahnya.

Selain mendatangkan kerusakan dari arah atas, letusan Gunung Krakatau ini juga memicu terjadinya Tsunami dan menghancurkan bangunan lain yang ada di dalam pulau satu ini. Hal ini mungkin jarang diucap dalam sejarah Pulau Kelor. Hanya penduduk sekitar saja yang menceritakannya dari generasi ke generasi.

Baca JugaLiverpool Terseok-seok di Liga Inggris, Mampukah Temukan Pola Permainan Terbaik Lawan Napoli?Mantan Penasehat KPK Sarankan Polri Tidak Lagi di Bawah Presiden Melainkan Berada di Kemendagri

Menjadi Kuburan Dari Tragedi Zeven Provincien

Selain menjadi kuburan bagi penduduk setempat dan tentara Belanda, ada kisah lain dibalik keindahan Pulau Kelor ini. Salah satunya adalah peristiwa Zeven Provinciën atau tragedi Kapal Tujuh pada Februari 1933. Ini merupakan salah satu bagian terbesar dalam sejarah Pulau Kelor. Secara tidak langsung, tragedi satu ini menjadi kemunduran besar tentara VOC saat itu. Ada banyak yang menjadi korban di dalamnya.

Dipercaya, tragedi yang terletak di pesisir Sumatera ini justru berakhir di lepas pantai Pulau Kelor. Peristiwa satu ini adalah momen di mana para pegawai menolak untuk diturunkan gajinya oleh Maritim Belanda. Kemudian terjadilah perang di atas kapal antara awak dengan para penjajah. Pemerintah belanda kemudian mengirimkan kapal pengebom dan menghancurkan kapal satu ini dengan para awaknya di lepas pantai Pulau Kelor. (*)

Kirim Komentar