SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Puan Maharani Ditinggal atau Disingkirkan PDI Perjuangan?

penutupan rakernas ii pdi perjuangan 169
Kader PDIP Ganjar Pranowo (kedua kiri) memberikan naskah rekomendasi eksternal kepada Ketum Megawati Soekarnoputri (kedua kanan) disaksikan Ketua DPP Puan Maharani (kanan) dan Prananda Prabowo (kiri) saat Rakernas di Sekolah Partai, Jakarta, Rabu (23/6/2022). (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT

SEBAGAI partai politik (parpol) yang tak pernah absen mengusung kandidat RI-1, PDIP kiranya cukup cermat dengan membiarkan Ganjar Pranowo tetap bermanuver keliling Indonesia jelang 2024. Itu agaknya dikarenakan Puan Maharani yang selalu digadang akan diusung tampak tak peduli dengan citranya sendiri.

Hal itu dapat terlihat dari bagaimana Ganjar beberapa kali mengunggah aktivitasnya melakukan konstruksi citra politik ke berbagai daerah di akun Instagram pribadinya.

Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Mamuju, Sulawesi Barat, hingga Makassar, Sulawesi Selatan menjadi tiga kota yang disambangi Ganjar dalam dua pekan terakhir.

Baca JugaIni Alasan Hotman Paris Hutapea Bela Irjen Teddy Minahasa dalam Kasus Dugaan Peredaran NarkobaUsai Cabut Pernyataan Sebut Kabareskrim Polri, Nama Hendra Kurniawan Disebut Tekan Ismail Bolong, Pengacara Bilang Begini

Itu kemudian menimbulkan tanya tersendiri mengingat Ganjar sempat disindir secara tidak langsung oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto pada akhir Juli lalu. Kala itu, Hasto menegaskan manuver kader PDIP ke luar daerah harus berlandaskan penugasan maupun surat resmi.

Apa yang disampaikan Hasto itu berdekatan dengan suara internal sejumlah parpol lain yang berniat mengusung Ganjar sebagai capres 2024, bersamaan dengan PDIP yang bersikukuh menyebut akan mengusung Puan Maharani sebagai kandidat RI-1.

Baca JugaPihak Provider Ungkap Permintaan Data Panggilan Sejumlah Nomor Ponsel dari Polisi, Ada Milik ART SusiSaat Singgung Kemenangan di Pilpres 2014 dan 2019, Jokowi: Kelihatannya Setelah Ini Jatahnya Pak Prabowo

Pekan lalu, Hasto kembali mengungkapkan sindiran yang sama. Akan tetapi, kali ini tafsir terhadap sindiran itu agaknya lebih mengarah pada “bumbu” politik, persis seperti yang pernah terjadi jelang Pilpres 2014.

Di edisi delapan tahun lalu, Puan juga digaungkan sebagai capres PDIP meskipun pada akhirnya Megawati Soekarnoputri tetap memilih Joko Widodo (Jokowi) berkat pilihan rasional terkait tingkat elektabilitas.

Namun, 2024 boleh jadi merupakan momentum yang berbeda dari 2014. Itu dikarenakan, Puan tampak membutuhkan jabatan politis level tertinggi agar mendapatkan legitimasi demi transisi kepemimpinan PDIP sebagai pewaris trah Megawati.

Baca JugaWamenkes Sebut Ada Sejumlah Obat Sedang Diinvestigasi, 15 dari 18 Obat Mengandung Etilen GlikolBuka Suara Soal Adopsi Anak, Putri Candrawathi Bantah Jadi Penembak Ketiga

Itu kemudian menimbulkan pertanyaan sederhana, yakni mengapa PDIP kali ini tetap membiarkan Ganjar bermanuver di saat internal mereka seolah butuh sosok simbolis seperti Puan untuk memimpin?

Kirim Komentar

Ketika Sains Melihat Hantu Kenapa Indonesia Tak Dijadikan Negara Islam Saja? Terungkap Alasan Hepatitis Akut Disebut Misterius