SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Perkampungan Misterius Manusia Kerdil di Wilayah Timur Iran

p05t6tj7
Hingga sekitar 100 tahun yang lalu, beberapa penduduk Makhunik mengukur ketinggian hanya satu meter. (Foto Mohammad M. Rashed)

SEBUAH desa dengan warganya berukuran kerdil pernah ada di wilayah paling timur Iran. Sampai sekitar satu abad lalu, beberapa penduduk Makhunik, sebuah desa berusia 1.500 tahun yang berjarak sekitar 75 km sebelah barat perbatasan Afghanistan, berukuran sekitar satu meter belaka, kira-kira 50 cm lebih pendek dari pada tinggi rata-rata manusia pada saat itu.

Mengutip BBC News Indonesia, pada tahun 2005, mumi manusia dengan panjang 25 cm ditemukan di wilayah tersebut. Penemuan tersebut memicu kepercayaan bahwa sudut terpencil Iran ini, yang terdiri dari 13 desa, termasuk Makhunik, pernah menjadi rumah bagi ‘Kota Manusia Kerdil’ kuno.
Meski para ahli telah menentukan bahwa mumi tersebut sebenarnya adalah bayi prematur yang meninggal kira-kira 400 tahun yang lalu, mereka berpendapat bahwa generasi penduduk Makhunik sebelumnya penduduk memang lebih pendek dari biasanya.

Malnutrisi secara signifikan berkontribusi terhadap defisiensi tinggi penduduk Makhunik. Budidaya hewan sulit di daerah kering dan sepi, sementara lobak, biji-bijian, jelai dan buah jujube merupakan satu-satunya pertanian.

Baca JugaFerdy Sambo: Pembunuhan Terjadi Akibat Kemarahan Saya Atas Perbuatan YosuaKonser Group Idola K-Pop NCT 127: 30 Orang Pingsan

Penduduk Makhunik membeli hidangan vegetarian sederhana seperti kashk-beneh (dibuat dari whey dan sejenis kacang pistachio yang tumbuh di pegunungan), dan pokhteek (campuran whey kering dan lobak).

Bisa dibilang anomali diet yang paling mengherankan adalah pengingkaran teh – salah satu keunggulan masakan dan keramah-tamahan Iran.

Baca JugaRekonstruksi Kasus Pembunuhan Brigadir J, Begini PenjelasannyaBerikut Daftar 23 Obat Sirup yang Dinyatakan Aman oleh BPOM

“Saat saya masih kecil tidak ada yang minum teh. Jika seseorang minum teh, mereka bercanda dan bilang dia pecandu,” kenang Ahmad Rahnama, mengacu pada stereotip bahwa pecandu opium banyak minum teh.

Warga Makhunik berusia 61 tahun itu mengelola sebuah museum yang didedikasikan untuk arsitektur bersejarah dan gaya hidup tradisional Makhunik.

Pada pertengahan abad ke-20, pembangunan jalan dan proliferasi kendaraan memungkinkan penduduk Makhunik mengakses bahan-bahan yang ditemukan di bagian lain Iran, seperti nasi dan ayam.

Baca JugaKetika Disinggung Serupa dengan Kasus Sambo, Begini Kronologi Kasus KM 50KBRI di Seoul Sebut 2 WNI Jadi Korban Luka-luka Tragedi Halloween di Itaewon

“Ketika kendaraan datang, orang bisa membawa makanan dari kota terdekat sehingga ada makanan yang lebih banyak dari sekadar roti kashk-beneh dan roti,” kata Rahnam.

Meskipun sebagian besar 700 penghuni Makhunik sekarang memiliki tinggi rata-rata, pengingat tentang nenek moyang mereka yang lebih pendek masih bertahan.

Dari sekitar 200 rumah batu dan tanah liat yang membentuk desa kuno, 70 atau 80 di antaranya sangat rendah, berkisar antara 1,5 sampai 2 meter – dengan langit-langit setinggi 1,4 meter.

Baca JugaNah Ini Dia, Foto Profil yang Digunakan Bjorka Cover Album Bjork: UtopiaJokowi Ingatkan Polri Soal Gaya Hidup Mewah

Sambil membungkuk, saya mengikuti Rahnama ke salah satu rumah ‘Lilliputian’ Makhunik, merunduk melalui pintu kayu yang terletak di sisi selatan rumah untuk membiarkan lebih banyak cahaya dan melindungi kamar tunggal rumah dari angin utara yang kuat.

Saya menemukan diri saya berada di tempat tinggal kecil yang dikenal sebagai ‘ruang duduk’ – dinamakan demikian karena saya dipaksa duduk lantaran langit-langit rendah.

Ruang dengan luas kira-kira 10 sampai 14 meter persegi ini terdiri dari kandik (tempat menyimpan terigu dan gandum), karshak (kompor tanah liat untuk memasak) dan ruang tidur.

Kirim Komentar