SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Pakar Kimia Universitas Pertahanan Tegaskan Penggunaan Gas Air Mata Kadaluwarsa Tidak Berbahaya

01ger575ktrc275h1wem1fw6y6
Aparat kepolisian menembakkan proyektil di antaranya diduga gas air mata ke arah tribun 11-13 Stadion Kanjuruhan. Foto: Dok. RCBFM Malang

PAKAR kimia dan dosen dari Universitas Pertahanan, Mas Ayu Elita Hafizah menegaskan penggunaan gas air mata yang kadaluarsa sama sekali tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kematian. Justru kadar kimia malah akan berkurang.

Mas Ayu menjelaskan zat kimia yang ada dalam gas air mata tidak berfungsi secara optimal.

“Pernyataan bahwa penyebab kematian akibat penggunaan gas air mata yang kadaluarsa adalah tidak tepat,” kata Mas Ayu kepada wartawan di Jakarta, Selasa (11/10).

Baca JugaBerubah Total, Taman Ismail Marzuki Tandai Seniman Hebat Wakil Gelanggang Seni DuniaLedakan Hantam Simbol Pencaplokan Moskow dan Rute Pasokan Utama Bagi Pasukan di Ukraina Selatan, Begini Langkah Vladimir Putin

Menurut Mas Ayu, risiko penggunaan gas air mata terhadap seseorang akan meningkat diantaranya bila ditembakkan langsung kepada seseorang, penggunaan dalam jumlah berlebihan, digunakan pada area tertutup dan digunakan pada kelompok rentan.

“Penggunaan gas air mata CS di lapangan atau ruang terbuka bersifat aman dan tidak berisiko menyebabkan korban jiwa,” tegasnya.

Baca JugaTak Cuma Ade Yunia Rizabani, Christian Rudolf Tobing Niat Habisi 2 Temannya, Target SelamatMembaca Arah Politik Pencapresan Partai Amanat Nasional

Lebih lanjut, menurutnya penggunaan gas air mata legal jika digunakan oleh aparat keamanan untuk menegakkan hukum. Dikatakannya bahwa penggunaan gas air mata oleh kepolisian yang menggunakan zat kimia chlorobenzaimalonontrile (CS) ini sudah sesuai standar internasional.

“Terdapat 5 kategori agen kimiawi. Gas air mata atau CS termasuk dalam Riot Control Agent (RCA). Terdapat 2 standar konsentrasi paparan agensi kimia yang umum digunakan dunia adalah OSHA dan NIES,” bebernya.

Mas Ayu menerangkan bahwa gas air mata (CS) hanya bersifat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan saluran nafas. Dampak dari paparan dapat dikurangi dengan menerapkan hirarki pengendalian risiko.

Baca JugaFakta Baru Kasus Pembunuhan Brigadir J, Bripka RR Sempat Mau Tabrakkan Mobil Saat Perjalanan dari Magelang ke Jakarta agar Yosua Jadi Korban KecelakaanPolri Pastikan Bakal Bentuk Tim Usut Unsur Pidana di Balik Maraknya Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak

“Hirarki pengendalian risiko dalam bentuk terendah adalah penggunaan masker. Menurut OSHA, konsentrasi ambang batas aman untuk penggunaan gas air mata adalah 0,05 ppm atau setara dengan 0,04 mg per m3,” terangnya.

Nah, penggunaan gas air mata oleh pihak kepolisian di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu 1 Oktober 2022 lalu kata Mas Ayu tidak berbahaya. Pasalnya, penggunaan gas air mata di ruang terbuka membuat konsentrasi formulanya menyebar tidak terhingga. Jadi sambungnya, dampak paparan zat akan lebih berkurang fatalitasnya atau tidak mematikan.

“Gas air mata akan dimetabolismekan oleh tubuh dan menghasilkan senyawa turunan yang dapat diterima tubuh. Zat kimia yang telah melewati masa kadaluarsa tidak dapat berfungsi secara optimal,” tandasnya.

Baca JugaCuitan Giring Ganesha Sentil Pilihan Capres Partai Nasdem, Warganet: Antara Otak dan Jarimu gak MatchHelikopter Milik Polri Hilang Kontak di Babel Usai Lewati Cuaca Buruk

Untuk diketahui Mas Ayu Elita Hafizah yang saat ini mengajar di Unhan merupakan lulusan S1 Ilmu Kimia/FMIPA Universitas Indonesia (UI). Kemudian mengambil gelar Master (S2) di universitas yang sama lulus pada 2006. Dan pada 2012, perempuan yang mengajar program studi Teknologi Persenjataan ini mengambil gelar doktor (S3) Ilmu Kimia, lulus pada 2012. (*)

Kirim Komentar