SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Laporan Intelijen Ungkap Uni Emirat Arab Permainkan Amerika Serikat Terkait Kebijakan Luar Negerinya, Termasuk Ikut Campur Sistem Politik Amerika

imrs
Mohamed bin Zayed Al Nahyan, presiden Uni Emirat Arab, dan Yousef Al Otaiba, duta besar UEA untuk Amerika Serikat, berbicara dengan Presiden Biden selama panggilan video antara Abu Dhabi dan Washington pada 11 November. 2. (The Uae Presidential Court/Handout Handout/EPA-EFE/Shutterstock)

SEBUAH laporan intelijen Washington mengungkap bahwa Uni Emirat Arab (UEA) telah mempermainkan Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan luar negerinya. Tindakan itu termasuk dengan ikut campur dalam sistem politik Amerika menggunakan taktik legal dan ilegal.

Laporan intelijen itu diungkap Washington Post dengan mengutip para pejabat intelijen Amerika.

Uni Emirat Arab selama ini telah dianggap sebagai sekutu dekat Amerika Serikat di Teluk Arab.

Baca JugaBIN Bantah Kabar Beri Info ke Pengacara Keluarga Brigadir JBeredar Video Pengakuan Ismail Bolong Terkait Aktivitas Pertambangan Ilegal di Kaltim Diduga Dibeking Pati Polri

Menurut laporan Washington Post, kegiatan UEA telah mengeksploitasi kerentanan dalam sistem Amerika, termasuk ketergantungan pada kontribusi politik dan lemahnya penegakan hukum yang dirancang untuk melindungi dari campur tangan asing.

Beberapa taktik UEA, lanjut laporan itu, menyerupai spionase.

Seorang anggota Parlemen AS mengilustrasikan kepada Washington Post tentang bagaimana sistem politik AS didistorsi oleh uang asing.

Baca JugaMengungkap Sosok Kuat Ma’ruf yang Berani Melarang Ajudan hingga Pegang Tubuh Istri Ferdy Sambo, Putri CandrawathiKeberadaan Ponsel Brigadir J Usai Penembakan di Rumah Ferdy Sambo Mulai Terkuak

“Garis merah yang sangat jelas perlu ditetapkan terhadap permainan UEA dalam politik Amerika. Saya tidak yakin kami pernah membicarakan hal ini dengan orang Emirat pada level yang tinggi,” kata anggota Parlemen tersebut yang tidak disebutkan namanya.

Pembuat kebijakan AS diduga menerima pengarahan tentang laporan intelijen rahasia dalam beberapa pekan terakhir. Bruce Riedel, seorang peneliti senior di Institusi Brookings mengatakan itu adalah pengarahan yang tidak biasa untuk dikeluarkan oleh badan intelijen AS karena berkaitan dengan sekutu dekat—bukan musuh, seperti Rusia, China atau Iran—dan dapat diartikan sebagai menyelidiki politik dalam negeri.

Yousef Al Otaiba, duta besar UEA untuk Washington, membela pengaruh besar negara kaya minyak itu di AS.

Baca JugaTerlibat Kasus Narkoba Irjen Teddy Minahasa, Ayah AKBP Doddy Prawiranegara: Seperti Disambar GeledekTerungkap Fakta Baru Kematian 4 Orang Sekeluarga di Kalideres

“Itu diperoleh dengan susah payah dan memang pantas,” katanya kepada Washington Post, Senin (14/11/2022).

“Ini adalah produk dari kerja sama erat UEA-AS selama puluhan tahun dan diplomasi yang efektif. Itu mencerminkan kepentingan bersama dan nilai-nilai bersama.”

Menurut catatan pemerintah AS, UEA telah menghabiskan lebih dari USD154 juta untuk pelobi sejak 2016, selain ratusan juta dolar yang disumbangkan ke perguruan tinggi dan lembaga think tank Amerika.

Baca JugaUngkap Isi Pembicaraan Sebelum Penembakan, Pacar Brigadir J Vera Simanjuntak: Yosua Mengaku Dituduh Bikin Putri Candrawathi SakitBPOM: Tak Semua Obat Sirup Termorex Tercemar Etilen Glikol dan Dietilen Glikol

Banyak dari lembaga tersebut telah menghasilkan makalah kebijakan dengan rekomendasi yang menguntungkan kepentingan UEA.

Investasi tersebut tampaknya membuahkan hasil, karena Washington telah menyetujui penjualan beberapa persenjataan paling canggih buatan AS, termasuk drone Predator MQ-9 dan jet tempur siluman F-35, ke UEA.

Tidak ada negara Arab lain yang diberikan hak istimewa seperti itu karena para pemimpin AS telah berusaha untuk menghindari berkurangnya keunggulan militer kualitatif Israel di Timur Tengah.

Baca JugaIPW Duga Buku Hitam Ferdy Sambo Berisi Daftar Penerima Gratifikasi Bisnis Tambang di Kaltim dan KaltaraKetua Badan Pemenangan DPP RGP2024, Riswan: Saya Anggota KAHMI, Saya Optimis Ganjar Pranowo Menang di Pilpres 2024

Berbatasan dengan Arab Saudi di barat daya dan Oman di timur, UEA yang kaya minyak adalah anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Sekitar 2.000 tentara dan penerbang AS ditempatkan di pangkalan udara al-Dhafra Abu Dhabi, dan kedua negara mendukung perang Arab Saudi melawan Houthi di Yaman, meskipun Pentagon berhenti mendukung operasi “ofensif” di sana pada tahun 2021, dan UEA menarik pasukan daratnya pada awal tahun 2020.

Pada awal Agustus, Washington mengesahkan penjualan 96 rudal sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) senilai USD2,2 miliar untuk membantu Abu Dhabi mengusir kemungkinan ancaman rudal balistik di wilayah tersebut.

Baca JugaDilaporkan 3.000 Laporan Orang Hilang, Polisi Korea Selatan Dalami Penyebab Tragedi Halloween di ItaewonHunian Baru Nikita Mirzani di Rutan Serang, Nyai Tidur Bersama 8 Warga Binaan

Namun, setelah anggota OPEC+ mengumumkan keputusan mereka untuk memangkas produksi minyak bulan lalu, beberapa anggota Parlemen AS menuduh sekutu Washington “berpihak pada Rusia” dan mengusulkan penarikan pasukan dan sistem pertahanan rudal dari UEA dan Arab Saudi sebagai hukuman. (*)

Kirim Komentar