SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Keterangan Berubah-ubah, Adzan Romer Takut pada Ferdy Sambo untuk Bersaksi Jujur Terkait Kronologis dan Situasi Saat Pembunuhan Brigadir J

2375399795
Adzan Romer menjadi salah satu saksi dalam persidangan kasus pembunuhan Brigadir J. /Tangkapan layar YouTube POLRI TV RADIO

ADZAN Romer mengaku merasa ketakutan mengungkap kesaksiannya terkait kronologis dan situasi pada saat pembunuhan Brigadir Nofriansyah Joshua Hutabarat (J), Jumat (8/7). Ketakutan tersebut, ia sampaikan kepada majelis hakim dalam sidang lanjutan atas terdakwa Kuat Maruf dan Bripka Ricky Rizal (RR) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Rabu (9/11).

Romer kembali dihadirkan oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai saksi fakta di persidangan pembunuhan Brigadir J. Pada Selasa (8/11) kemarin, Romer juga bersaksi dalam persidangan untuk paket terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. Dalam kesaksian Romer pada Selasa (8/11) dikatakan JPU, ada cerita yang berbeda dari yang disampaikan dalam persidangan pada Rabu (9/11).

“Apa yang menyebabkan keterangan saudara berubah-ubah?,” tanya jaksa kepada Romer saat sidang di PN Jaksel, Rabu (9/11).

Baca JugaTeka-teki Keluarga Kalideres Sempat Jual Barang di Rumah Sebelum TewasKonser Group Idola K-Pop NCT 127: 30 Orang Pingsan

Saat menjawab pertanyaan jaksa itu, Romer mengakui kengerian yang dialaminya sebagai saksi. “Karena awalnya kami masih sangat takut memberikan kejujuran, Pak,” jawab Romer.

JPU pun merespons ketakutan Romer tersebut. “Takut kepada siapa? Kita takut hanya kepada Tuhan. Takut siapa?,” begitu kata jaksa melanjutkan pertanyaan.

Baca JugaSaksi Ungkap Tes PCR 8 Juli 2022 di Jalan Saguling Tanpa Diikuti Ferdy SamboAjudan Ferdy Sambo Sebut Nama Mantan Kapolri Idham Azis dalam Sidang Pembunuhan Brigadir J

Romer pun menyampaikan ketakutannya terhadap mantan komandannya itu. “Takut sama Bapak, Pak,” terang Romer.

JPU tak puas dengan jawaban Romer. Lalu menekan Romer untuk spesifik menyampaikan ketakutannya terhadap siapa. “Pak Sambo, Pak,” ujar Romer.

JPU kembali memastikan. “Jadi saudara selama ini takut bersaksi karena Ferdy Sambo?,” tanya jaksa. Romer pun mengiyakan pernyataan jaksa tersebut. “Takut saja Pak, karena ini sudah ada yang meninggal,” kata Romer.

Baca JugaAset Indra Kenz Dirampas Negara, Korban Tidak Terima Putusan HakimJustin Trudeau Mengeluh Soal Dugaan Intervensi China, Xi Jinping: Semua yang Kita Diskusikan Bocor ke Surat Kabar, Itu Tidak Pantas

Adzan Romer sebetulnya mantan ajudan Ferdy Sambo saat kasus pembunuhan Brigadir J terungkap. Romer adalah rekan kerja Brigadir J. dan terdakwa Bharada Richard Eliezer (RE), serta Bripka RR.

Ferdy Sambo memiliki delapan anggota ajudan. Jumlah ajudan itu belum termasuk para pekerja sekuriti yang menjaga rumahnya di Saguling III 29, di Jalan Bangka, dan di Duren Tiga 46 tempat pembunuhan Brigadir J tersebut.

Para ajudan yang tak duduk sebagai terdakwa, di persidangan diandalkan JPU sebagai saksi. Kesaksian Romer, menjadi salah satu acuan bagi jaksa dalam membuktikan peran para terdakwa dalam pembunuhan di Duren Tiga 46 itu.

Baca JugaTurki Tolak Ucapan Belasungkawa Amerika Serikat Atas Serangan di IstanbulFakta-fakta di Balik Tewasnya Satu Keluarga di Perumahan Citra Garden Satu Extension

Terutama untuk membuktikan tentang keterlibatan Ferdy Sambo. Karena Romer, adalah ajudan yang mengawal Ferdy Sambo dari rumah Saguling III 29 ke rumah ‘jagal’ di Duren Tiga 46 pada Jumat (8/7) saat pembunuhan terjadi.

Kesaksian Romer juga yang membuktikan Ferdy Sambo memang telah menyiapkan diri untuk menembak Brigadir J. Karena dari kesaksiannya, Romer mengatakan, Ferdy Sambo sudah mengenakan sarung tangan karet hitam saat turun dari mobil di depan rumah Duren Tiga 46.

Ferdy Sambo mengenakan pelindung tangan tersebut sebelum terdengar suara tembakan. Dari kesaksian Romer juga terungkap Ferdy Sambo yang sudah menyiapkan senjata api jenis pistol saat turun dari mobil. Karena dari kesaksian Romer itu mengatakan, senjata api jenis HS 9 mm tersebut yang sempat jatuh dan dipungut sendiri oleh Ferdy Sambo sebelum masuk ke dalam rumah Duren Tiga 46.

Baca JugaAnies Baswedan: Kita Tidak Bisa Hanya Diam, Tuhan Tidak Mengubah Nasib Jika Tak IkhtiarInsiden Kecelakaan di China, Tesla Kehilangan Kendali

Kesaksian Romer juga mengungkapkan tempat Putri Candrawathi saat peristiwa penembakan Brigadir J.

Romer mengatakan, ia sempat masuk ke tempat pembunuhan, setelah penembakan terjadi di dekat tangga ruang tengah rumah Duren Tiga 46. Saat itu Romer juga melihat jenazah Brigadir J yang sudah tertelungkup.

Di situ, kata Romer, ia mendengarkan suara tangisan Putri Candrawathi yang berada di dalam kamar di lantai satu. Kamar tersebut, pun dikatakan Romer dalam kondisi terbuka. Romer melihat Ferdy Sambo menjemput Putri Candrawathi dari dalam kamar dan membawa keluar rumah.

Baca JugaTendang Nenek hingga Tersungkur, Pelajar Berseragam Pramuka Kendarai Motor ‘Berplat T’ di Tapsel Ditangkap PolisiRudal Jatuh di Desa Przewodow: Polandia Salahkan Rusia, Amerika Serikat Sebut Ditembakkan oleh Pasukan Ukraina

Namun saat bersaksi atas terdakwa RR dan KM, Rabu (9/11), Romer menurut JPU menyampaikan adanya penjelasan berbeda. Terutama dikatakan JPU terkait tentang senjata HS yang disebut Romer, jatuh saat Ferdy Sambo turun dari mobil.

Dalam sidang sebelumnya, Romer mengatakan, berusaha untuk mengambil pistol yang jatuh tersebut, tetapi dilarang oleh Ferdy Sambo. Tetapi, pada sidang Rabu (9/11) menyampaikan tidak ada pelarangan dari Ferdy Sambo. “Tidak dilarang, hanya keduluan saja dengan bapak,” ujar Romer.

Romer, pun dalam persidangan sebelumnya menyampaikan adanya pernyataan Ferdy Sambo kepadanya setelah penembakan terjadi. “Itu ibu, ibu di dalam,” begitu kata Ferdy Sambo dalam cerita Romer, Selasa (8/11).

Baca JugaJoe Biden-Xi Jinping Berdialog Selama 3 Jam, Washington-Beijing Perbaiki HubunganJMSI Beberkan Strategi Pembentukan Badan Ad Hoc Melalui Media Siber Dan Media Sosial di Rakor KPU Jawa Barat

Tetapi pada persidangan Rabu (9/11), cerita Romer menghilangkan adegan penyampaian Ferdy Sambo tersebut. Romer di persidangan Rabu (8/11) malah menyampaikan adanya perintah dari Ferdy Sambo untuknya masuk ke dalam rumah. “Mohon ikut saya,” begitu kata Ferdy Sambo dalam pengakuan Romer. Namun Romer tak menghilangkan cerita tentang Ferdy Sambo yang menyikutnya saat hendak masuk ke dalam rumah sambil mengatakan, “kalian tidak bisa jaga ibu.”

Kemarin (8/11) di persidangan, satu-satunya kesaksian yang ditolak oleh Ferdy Sambo memang tentang pengakuan Romer.

Ferdy Sambo memberikan bantahan terutama soal pengenaan sarung tangan hitam karet yang disebut ia kenakan saat turun dari mobil di depan rumah Duren Tiga 46. “Saya tegaskan, yang mulia hakim, bahwa saya tidak pernah mengenakan sarung tangan saat turun dari kendaraan,” ujar Ferdy Sambo di persidangan, Selasa (8/11).

Baca JugaTingkah Tak Lazim Budiyanto Gunawan Sebelum Ditemukan Tewas ‘Mengering’ di KalideresAjudan Ferdy Sambo Sebut Nama Mantan Kapolri Idham Azis dalam Sidang Pembunuhan Brigadir J

Pun Ferdy Sambo meluruskan tentang senjata pistol yang jatuh saat ia turun dari mobil. Menurut Ferdy Sambo, senjata api yang jatuh tersebut bukan berjenis HS seperti penjelasan Adzan Romer. Melainkan, pistol yang jatuh itu adalah pistol Wilson Combat.

Pistol dengan peluru kaliber 45 milimeter (mm) itu yang selama ini menjadi senjata yang ia pakai dalam kedinasan harian. “Senjata yang jatuh, bukan senjata HS, yang mulia. Tetapi senjata pribadi saya, Combat Wilson,” begitu kata Ferdy Sambo.

Dalam persidangan Rabu (9/11) kesaksian Romer tersebut, pun dibantah oleh saksi Diryanto alias Kodir. Dalam persidangan Selasa (8/11) Kodir juga dihadirkan sebagai saksi atas terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.

Baca JugaFakta-fakta di Balik Tewasnya Satu Keluarga di Perumahan Citra Garden Satu ExtensionPutri Candrawathi: Saya Memohon Maaf kepada Para Ajudan Bapak Ferdy Sambo

Pada persidangan Rabu (9/11), Kodir pembantu rumah tangga (ART) Ferdy Sambo, si penjaga rumah di Duren Tiga 46 itu, juga mengaku berada di rumah pembunuhan saat kejadian. Tetapi ia mengaku, tak melihat adanya Adzan Romer masuk ke dalam rumah setelah penembakan tersebut.

Meskipun Kodir menyebut bersama-sama Romer di garasi saat penembakan terjadi. “Romer tidak masuk ke dalam. Bersama-sama saya di garasi. Saya melihat Pak FS keluar ke garasi bertemu Romer. Lalu masuk kembali. Tetapi Romer tidak ikut masuk ke dalam rumah. Hanya di garasi,” begitu kata Kodir.

Kodir, pun berbeda cerita dari kesaksian Romer tentang perintah Ferdy Sambo untuk berkumpul setelah penembakan Brigadir J terjadi. Kesaksian Romer mengatakan, saat berkumpul itu, ada Ferdy Sambo, Richard Eliezer, Ricky Rizal, Kodir, dan Kuat Maruf, juga Prayogi si sopir yang selama peristiwa tetap berada di luar di dekat mobil.

Baca Juga3 Pejabat Pakistan Diduga Dalang di Balik Insiden Penembakan Mantan Perdana Menteri Imran KhanKim Jong-un Ajak Putrinya Tinjau Uji Coba Rudal ICBM Korea Utara yang Bisa Jangkau Wilayah AS

Dalam versi Romer, saat dikumpulkan itu, Ferdy Sambo menyampaikan pembelaan atas dirinya, dan Richard. “Bagaimana kalau ini terjadi kepada anak atau keluarga kalian. Dan Richard kamu akan saya bela, walaupun pangkat dan jabatan saya sebagai taruhannya,” kata Romer menirukan Ferdy Sambo.

Saat mengucapkan itu, kata Romer, Ferdy Sambo sambil merangkul Richard. Tetapi, dalam kesaksian Kodir, saat dikumpulkan oleh Ferdy Sambo, ia juga tak melihat ada Romer, pun juga Kuat Maruf. (*)-

 

Kirim Komentar

Ketika Sains Melihat Hantu Kenapa Indonesia Tak Dijadikan Negara Islam Saja? Terungkap Alasan Hepatitis Akut Disebut Misterius