SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Hasil Investigasi Tragedi Kanjuruhan, Berikut Kesimpulan Komnas HAM

OXbAZeacDkwTvUWJzPLqRP5aYEJQlFHI
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik (tengah) bersama Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara (kanan) dan Mohammad Choirul Anam (kiri) saat konferensi pers tentang hasil penyelidikan tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan Malang, di Jakarta, Rabu (2/11/2022).

KOMNAS HAM melaporkan hasil investigasi terkait tragedi Kanjuruhan yang tewaskan ratusan orang. Ada sejumlah kesimpulan Komnas HAM yang dihasilkan dalam Tragedi Kanjuruhan.

Tragedi kanjuruhan terjadi usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya yang dihelat Sabtu (1/10) malam. Sebanyak 135 orang meninggal dalam insiden tersebut dan ratusan orang lain terluka.

Peristiwa itu terjadi karena kericuhan yang terjadi setelah pertandingan berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Persebaya. Setlah peluit tanda pertandingan berakhir, penonton sempat masuk ke dalam lapangan.

Baca JugaBudi Mulyawan: Relawan Hormati Ganjar Pranowo Sebagai Kader PDI Perjuangan yang Tegak LurusYang Perlu Anda Ketahui Terkait Fakta Tragedi Halloween di Kawasan Itaewon

Aparat lalu memukul mundur hingga menembakkan gas air mata hingga membuat para penonton berebut keluar dari stadion. Berikut kesimpulan Komnas HAM terkait tragedi Kanjuruhan:

Terjadi Pelanggaran HAM

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menjabarkan tragedi Kanjuruhan merupakan pelanggaran hak asasi manusia akibat pengelolaan pertandingan sepakbola yang tidak mengedepankan keamanan dan keselamatan. Selain itu, kejadian ini juga terjadi akibat adanya penggunaan kekuatan dari aparat keamanan yang berlebihan.

Baca JugaKomnas HAM: Ada 7 Pelanggaran HAM di Tragedi KanjuruhanMenlu AS Antony Blinken Minta Semua Pihak Tahan Diri usai Mantan PM Imran Khan Ditembak

“Peristiwa tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan merupakan peristiwa pelanggaran hak asasi manusia,” ujar Anam dalam konferensi pers di Komnas HAM, Rabu (2/11/2022).

Dilanggarnya Aturan PSSI dan FIFA

Selain itu, Anam menyebut ada sistem pengamanan yang menyalahi aturan PSSI dan FIFA. Hal itu dapat dilihat dalam pelibatan TNI dan Kepolisian yang membawa gas air mata dalam pengamanan stadion.

“Terdapat sistem pengamanan yang menyalahi aturan PSSI dan FIFA dengan pelibatan kepolisian dan TNI antara lain, masuknya gas air mata serta penembakan gas air mata, penggunaan simbol-simbol keamanan yang dilarang dan fasilitas kendaraan,” sebut Anam.

Baca JugaBanjir Besar Rendam 6 Kecamatan 15 Ribu Jiwa Terdampak di Sumatera UtaraMengungkap Sosok Kuat Ma’ruf yang Berani Melarang Ajudan hingga Pegang Tubuh Istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi

Pelanggaran aturan tersebut karena PSSI tidak mempedulikan prinsip keamanan dan keselamatan yang tertuang dalam regulasi PSSI dan FIFA. Hal tersebut dapat dilihat dari perjanjian kerja sama (PKS) antara PSSI dan kepolisian yang mengabaikan prinsip keselamatan dan keamanan.

“Pelanggaran terhadap aturan PSSI dan FIFA ini terjadi karena desain pengamanan dalam seluruh pertandingan sepakbola yang menjadi tanggung jawab PSSI, tidak memperdulikan prinsip keselamatan dan keamanan yang terdapat dalam regulasi PSSI dan FIFA,” kata dia.

“PKS akhirnya menjadi dokumen resmi dan pedoman pengaturan keamanan dan keselamatan antara PSSI dan Kepolisian yang secara normatif melanggar regulasi PSSI dan FIFA dan pada saat diterapkan bertentangan dengan prinsip dan norma tersebut,” lanjutnya.

Baca JugaHasil Otopsi 4 Orang 1 Keluarga Meninggal Dunia Diduga Tidak Makan dan Minum Cukup LamaPidato Kebangsaan Anies Baswedan Miskin Literasi Internasional

Petugas Keamanan Tidak Lakukan Tugasnya

Lebih lanjut, Anam menyebut petugas keamanan yang tidak mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan keamanan. Hal itu dikarenakan tidak adanya standarisasi kemampuan dalam melakukan tugas utamanya.

“Ketidakmampuan security officer ini diakibatkan oleh tidak adanya standardisasi kemampuan melalui lisensi atau akreditasi, yang diuji dan dievaluasi setiap waktu,” kata dia.

Unsur Pertandingan Abaikan Keselamatan

Dirinya menyebut bahwa unsur-unsur penting dalam penyelenggaraan pertandingan Arema FC melawan Persebaya, mengabaikan keselamatan. Padahal, pertandingan tersebut merupakan pertandingan dengan risiko tinggi.

Baca JugaSiapa Sosok Ismail Bolong Sebenarnya?Evakuasi Jenazah Brigadir J, Sopir Ambulans Bingung Bawa Jasad Yosua Dibawa ke IGD

“Mengabaikan keselamatan dan keamanan, atau setidak-tidaknya tidak menjadikan keselamatan dan keamanan sebagai salah satu pilar utama dalam penyelenggaraan pertandingan tersebut, yang dalam realitas faktualnya merupakan pertandingan dengan kategori berisiko tinggi (high risk),” ujar Anam.

Anam juga mengatakan Ketua Umum dan Sekjen PSSI tidak mengambil langkah konkret untuk melakukan keamanan dalam pertandingan dengan resiko tinggi. Dalam hal ini, kewenangan yang dimiliki PSSI tidak digunakan untuk menjamin keamanan pertandingan.

“Ketua Umum dan Sekjen PSSI antara lain tidak mengambil langkah konkret sesuai dengan regulasi atas pertandingan berisiko tinggi (high risk) tersebut untuk memastikan keselamatan dan keamanan,” ujarnya.

Baca JugaSaksi Ungkap Ferdy Sambo Sosok yang Gampang MarahBeredar Video Saat Perdana Menteri Kanada Dimarahi Xi Jinping, Begini Penjelasan Justin Trudeau

Pengawas pertandingan yang mengetahui adanya pelanggaran terhadap regulasi PSSI dan FIFA juga tidak mengambil tindakan. Pihak pantia pelaksana dan klub Arema juga tidak menjadikan keamanan menjadi faktor penting dengan mencetak tiket melebihi kapasitas stadion.

“Match commissioner antara lain mengetahui pelanggaran terhadap regulasi PSSI dan FIFA juga tidak mengambil langkah untuk mencegah dan atau menghentikan pelanggaran tersebut berlangsung,” sebut Anam.

PT LIB Lebih Pentingkan Sponsor

Anam mengungkap, PT Liga Indonesia Baru (LIB) tidak mengambil langkah konkrit untuk melakukan pengamanan pertandingan dengan risiko tinggi. PT LIB malah mengedepankan kepentingan sponsor bersama dengan pihak penyiar.

Baca JugaHanya Relawan Abal-Abal Yang Dukung Jokowi Kudeta Kursi Ketum PDI PerjuanganInsiden Kecelakaan di China, Tesla Kehilangan Kendali

“PT LIB sebagai operator sekaligus penanggung jawab operasional keseluruhan kompetisi antara lain tidak mengambil langkah konkret guna menjamin pertandingan berisiko tinggi (high risk) berjalan dengan aman dan selamat.

Anam mengatakan hal tersebut menjadi penyebab terjadinya tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang. Hal itu, kata Anam, bukan hanya sekedar pelanggaran regulasi, namun juga masuk ke dalam ranah pidana.

“Fakta-fakta di atas pada akhirnya mengakibatkan pertandingan Arema FC vs Persebaya pada 1 Oktober 2022 menjadi tragedi kemanusiaan yang menewaskan 135 orang meninggal dan ratusan orang luka serta trauma,” kata dia.

Baca JugaCerita Tim CCTV di Kasus KM50, AKBP Ari Cahya Terima Telepon Ferdy Sambo Usai Brigadir J TewasTim Investigasi Khusus Kasus Tragedi Halloween Itaewon Geledah 55 Lokasi, Termasuk Kantor Kepala Badan Kepolisian Nasional dan Kepala Badan Kepolisian Metropolitan Seoul

Gas Air Mata Jadi Sebab Utama Jatuhnya Korban

Kesimpulan selanjutnya, penembakan gas air mata merupakan penyebab utama banyaknya korban yang berjatuhan dalam tragedi Kanjuruhan. Anam menuturkan, meski tidak mematikan, namun dalam kondisi tertentu gas air mata dapat mematikan.

“Penembakan gas air mata merupakan penyebab utama dari banyaknya jatuh korban meninggal, luka dan trauma dalam tragedi kemanusiaan Kanjuruhan,” ungkap dia.

Ditemukan Gas Air Mata Kedaluwarsa

Komnas HAM menemukan adanya gas air mata yang kedaluwarsa. Hal itu didapatkan Komnas HAM usai lakukan uji laboratorium terhadap selongsong gas air mata yang didapatkan.

Baca JugaJoe Biden-Xi Jinping Berdialog Selama 3 Jam, Washington-Beijing Perbaiki HubunganKasus Binomo, Fakarich Guru Indra Kenz Divonis 10 Tahun Penjara

“Terdapat gas air mata yang telah kedaluwarsa. Hal ini berdasarkan keterangan yang Komnas HAM peroleh dan hasil dari laboratorium atas gas air mata yang didapatkan oleh Aremania dan Komnas HAM,” ujar dia.

Aparat Keamanan Gunakan Kekuatan Berlebihan

Komnas HAM juga menemukan adanya penggunaan kekuatan yang berlebihan dari aparat keamanan, terutama ketika adanya tembakan gas air mata secara masif dan mengarah pada penonton. Hal itu, kata Anam, bukan hanya melanggar aturan, tapi juga masuk dalam kategori tindak pidana.

“Terjadi tindakan excessive use of force dalam tragedi kemanusiaan yang mengakibatkan kematian, luka dan trauma,” ujarnya.

Baca JugaRelawan IndonesiAnies Siap Menangkan Anies Baswedan Jadi PresidenCerita ART Ferdy Sambo Saat Bersihkan Darah Brigadir J, Kodir: Gunakan Serokan Kayu Lalu Dibuang ke Kamar Mandi

Tindakan Kekerasan oleh Aparat Keamanan

Anam menyebut, ditemukannya tindakan kekerasan oleh aparat keamanan, di dalam ataupun di luar stadion. Kejadian kekerasan di luar stadion terjadi ketika evakuasi pemain dan ofisial Persebaya.

“Terdapat tindakan kekerasan di lapangan maupun di luar stadion, antara lain di lapangan dilakukan oleh aparat TNI,” kata dia.

Pemulihan Korban Tanggung Jawab Semua Pihak Terlibat

Disebut pula bahwa untuk pemulihan terhadap para korban dan pihak-pihak yang terdampak tragedi Kanjuruhan adalah tanggung jawab semua pihak yang terlibat. Dirinya juga menegaskan, pemulihan bagi korban dengan luka permanen perlu diperhatikan.

Baca JugaJejak Bom Mobil Tewaskan 100 Orang di SomaliaKapolri Perintahkan Segera Tangkap Mantan Satintelkam Polres Samarinda Ismail Bolong

“Tanggung jawab pemulihan fisik dan psikis korban merupakan tanggung jawab semua pihak yang terlibat dalam tragedi kemanusian tersebut termasuk pemerintah,” pungkasnya. (*)

Kirim Komentar

Ketika Sains Melihat Hantu Kenapa Indonesia Tak Dijadikan Negara Islam Saja? Terungkap Alasan Hepatitis Akut Disebut Misterius