SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Hakim Cecar Kompol Aditya Cahya Sumonang, Siapa Sumber Isu CCTV Kompleks Ferdy Sambo Tersambar Petir

2022 0823 13584500 19 485x360 1
AKBP Aditya Cahya saat memberikan keterangan dalam sidang perkara obstruction of justice, Kamis (27/10/2022) pagi.

KOMPOL Aditya Cahya Sumonang mengaku mendengar isu video rekaman dari CCTV di Kompleks Polri Duren Tiga hilang karena tersambar petir. Hakim pun mencecar Aditya siapa sumber isu yang katanya beredar di masyarakat itu.

Aditya merupakan saksi dalam sidang kasus merintangi penyidikan pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2022). Aditya dihadirkan sebagai saksi pelapor dugaan perusakan barang bukti elektronik dengan terdakwa Brigjen Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria.

Aditya awalnya bicara tentang isu yang muncul setelah Brigadir Yosua tewas ditembak di rumah dinas Ferdy Sambo pada Jumat (8/7). Salah satu isunya ialah CCTV di kompleks Sambo tersambar petir dan menyebabkan rekamannya hilang.

Baca JugaSaid Didu Heran Perhitungan Banjir di Jakarta Skala RT, Cilacap Hanya KecamatanJejak Aktivis Kemerdekaan Papua, Filep Karma Ditemukan Meninggal di Pantai Base G Jayapura

“Dari awal isu yang berkembang di masyarakat kena petir, terus rekamannya hilang. Sudah ada opini di masyarakat penanganan kasus Brigadir Yosua ini tidak benar, makanya kami mendampingi ke mana CCTV itu,” ucap Aditya.

Hakim kemudian mempertanyakan ucapan Aditya tersebut. Hakim bertanya dari mana Aditya tahu ada isu tersebut.

Baca JugaMAKI Ungkap Harga Sewa Private Jet PP yang Digunakan Brigjen Hendra Kurniawan Kunjungi Keluarga Brigadir J Sebesar Rp500 JutaSejumlah Fakta Berupa Chat Satu Arah Penuh Emosi Negatif di Ponsel Keluarga Kalideres

“Saya tanya juga ingin penjelasan Saudara, tadi Saudara mengatakan terkait dengan CCTV yang kena petir tadi adalah opini masyarakat. Dari mana Saudara tahu?” tanya hakim Djuyamto.

Aditya kemudian menjawab dirinya bertanya ke sekuriti yang bernama Marjuki soal CCTV tersambar petir. Menurutnya, Marjuki membenarkan peristiwa itu.

“Setelah kami konfirmasi ke Pak Marjuki, memang benar,” jawab Aditya.

Hakim Djuyamto kembali mencecar Aditya terkait pernyataan yang sama. Dia menyatakan pertanyaan ialah dari mana Aditya tahu bahwa ada isu berkembang di masyarakat soal CCTV Kompleks Polri Duren Tiga tersambar petir hingga rekamannya rusak.

Baca JugaPolisi: Upaya Cabut Laporan dari Lesti Kejora Tidak Lantas Rizky Billar Lolos dari Jeratan HukumSony Santa Monica Tawarkan Pemain, Pilihan Grafis Berbeda di Video Game God of War Ragnarok

“Bukan soal pernah terjadinya, opini bahwa CCTV itu viral dari masyarakat timbulnya dari mana?” tanya hakim Djuyamto.

“Kami baca di berita,” jawab Aditya.

Hakim pun bertanya siapa narasumber dalam pemberitaan itu. Aditya tak menjawab dengan jelas.

“Berita itu kan ada sumbernya, siapa yang menyatakan itu?” tanya hakim.

Baca JugaMahasiswa Baru UGM Akhiri Hidupnya dengan Lompat dari Lantai 11 Sebuah Hotel di Jalan ColomboBegini Cara Keluarga Kalideres Jual Barang, Polisi: Diletakkan di Luar Rumah

“Apakah dari Kapolres Jaksel saat itu? Siapa? Dari masyarakat atau Kapolres Jaksel?” tanya hakim lagi.

“Siap,” jawab Aditya.

“Ini fakta harus dijelaskan,” sambung hakim.

Kompol Aditya Sebut Ada CCTV Duren Tiga yang Tersambar Petir

Kompol Aditya Cahya Sumonang sebelumnya menyebut ada CCTV di Kompleks Polri Duren Tiga yang tersambar petir. Aditya menyebut hal itu ketahui saat dirinya melakukan penyelidikan terkait pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat.

Mulanya, jaksa bertanya ada berapa CCTV di Kompleks Duren Tiga yang ditelusuri di pos sekuriti dekat rumah dinas Ferdy Sambo itu. Aditya menyebut ada 8 hingga 9 gambar yang ditampilkan dan dalam keadaan stabil.

Baca JugaKorut Tembakkan Sejumlah Peluru Arteleri ke Dekat Zona Demiliterisasi KoreaBerawal dari Michat, Korban Diimingi Rp500 Ribu, Oknum Kepsek Diduga Cabuli Pelajar SMP di Samarinda

“(CCTV) menampilkan 8 atau 9 gambar,” jawab Aditya.

Jaksa lalu bertanya apa yang ingin dicari oleh Aditya dari DVR CCTV di Kompleks Duren Tiga itu. Aditya menyebut dirinya ingin melihat benar atau tidaknya opini yang berkembang di masyarakat terkait rekaman CCTV yang tersambar petir.

“Dari awal isu yang berkembang di masyarakat terkena petir, terus rekamannya hilang. Sudah ada opini di masyarakat penanganan kasus Brigadir Yosua ini tidak benar, makanya kami mendampingi ke mana CCTV itu,” kata Aditya.

Aditya membeberkan CCTV itu tersambar petir. Namun, kata Aditya, sambaran petir itu hanya merusak kameranya, sedangkan DVR CCTV-nya masih normal.

Baca JugaUsai Cabut Pernyataan Sebut Kabareskrim Polri, Nama Hendra Kurniawan Disebut Tekan Ismail Bolong, Pengacara Bilang BeginiAyah Yosua Beberkan Kondisi Jasad Brigadir J Saat Pertama Kali Peti Jenazah Dibuka

“Saksi bilang ada opini tersambar geledek, apakah benar tersambar geledek?” tanya jaksa.

“Siap, ternyata benar yang tersambar petir itu kameranya, bukan DVR-nya. Menurut keterangan Pak Marjuki (satpam Kompleks Duren Tiga) tidak terganggu,” ucap Aditya.

Dalam sidang ini duduk sebagai terdakwa adalah Brigjen Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria. Keduanya didakwa merusak CCTV yang membuat terhalanginya penyidikan kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat. Perbuatan itu dilakukan Hendra bersama dengan lima orang lainnya.

Baca JugaKedai Es Krim Legendaris, Ragusa Es Italia Berdiri Sejak 1932Saat Lockdown, Kebakaran di Xinjiang China Tewaskan 10 Orang

“Terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apapun yang berakibat terganggunya sistem elektronik dan/atau mengakibatkan sistem elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya,” ujar jaksa saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Rabu (19/10).

Brigjen Hendra dan Kombes Agus didakwa bersama Ferdy Sambo, AKBP Arif Rachman Arifin, Kompol Chuck Putranto, Kompol Baiquni Wibowo, dan AKP Irfan Widyanto. Mereka didakwa dengan berkas terpisah.

Hendra dan Agus didakwa dengan Pasal 49 juncto Pasal 33 dan Pasal 48 juncto Pasal 32 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dan Pasal 233 KUHP dan Pasal 221 ayat 1 ke-2 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (*)

Baca JugaPolri Dalami Penggunaan Gas Air Mata di Balik Tragedi KanjuruhanKeluarga-Kekasih Brigadir J Diperiksa Bersamaan, Ini Alasan Pengacara

 

Kirim Komentar