SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Berikut Temuan KontraS Terkait Tragedi Kanjuruhan, Ganjil Adanya Pengerahan Aparat Keamanan Pembawa Senjata Pelontar Gas Air Mata

6476 ELSHINTADOTCOM 20221009 img 8653
Suasana di pintu 13 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (6/10/2022). (ANTARA/Vicki Febrianto)

KONTRAS menemukan beberapa temuan baru terkait tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada Sabtu (1/10). Peristiwa itu menewaskan 131 orang dan ratusan lainnya luka-luka.

  • Temuan pertama dan dinilai sangat ganjil yakni berkaitan dengan adanya pengerahan aparat keamanan pembawa senjata pelontar gas air mata. Para aparat itu, dikerahkan saat pertandingan antara Arema FC vs Persebaya saat memasuki pertengahan babak.

Hal itu dianggap ganjil mengingat pada saat itu tak ada eskalasi massa yang terjadi.

Baca JugaBerikut Penjelasan Kerabat Korban 1 Keluarga 4 Orang Tewas di Perumahan Citra Garden Satu ExtensionMabes Polri Akui Sejumlah Gas Air Mata yang Digunakan Kadaluwarsa di Tragedi Kanjuruhan

”Kami menemukan bahwa, pengerahan aparat keamanan atau mobilisasi berkaitan dengan aparat keamanan yang membawa gas air mata itu dilakukan pada tahap pertengahan babak kedua,” kata Kepala Divisi Hukum KontraS, Andi Muhammad Rizaldi, saat konferensi pers terkait pemaparan hasil investigasi atas tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan, Minggu (9/10).

“Padahal dalam konteks atau situasi saat itu tidak ada ancaman, atau potensi gangguan keamanan, jadi ini kami melihat ada suatu hal yang ganjil,” lanjut dia.

Baca JugaPria Bersenjata Berkaos Lambang Swastika Tewaskan 15 Orang di Sekolah RusiaAnies Baswedan Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Kediaman Habib Rizieq Syihab

  • Temuan kedua yakni tidak adanya tindak kekerasan yang dilakukan suporter saat mereka turun ke lapangan. Turunnya para suporter ke lapangan murni hanya untuk memberikan semangat dan dorongan moril kepada para pemain Arema yang dianggap telah bermain maksimal pada laga malam itu.

Tapi sayangnya hal itu dinilai berbeda oleh aparat yang justru menindak para suporter ini dengan kekerasan yang pada akhirnya menyebabkan suporter lainnya ikut turun ke lapangan.

”Namun sejumlah penonton yang masuk ke dalam lapangan itu direspons secara berlebihan oleh aparat keamanan dan kemudian melakukan sejumlah tindak kekerasan. Nah akibat dari peristiwa tindak kekerasan ini, berdampak atau mengakibatkan sejumlah suporter lain ikut turun ke dalam lapangan,” ucap Andi.

Baca JugaSanaa Al-Tal Berusia 19 Tahun Meninggal Dunia Ditembak Pasukan Israel Saat Sedang BerkendaraPuan Maharani Ditinggal atau Disingkirkan PDI Perjuangan?

”Nah turunnya para suporter ini ke dalam lapangan bukan untuk melakukan satu tindakan serangan, tapi untuk menolong kawan-kawan suporter yang lain yang melakukan tindak kekerasan terhadap suporter yang ada di dal lapangan,” tutur dia.

  • Temuan ketiga, yakni tak dipatuhinya aturan penggunaan gas air mata oleh aparat kepolisian. Alih-alih mengikuti tahapan yang berlaku dalam aturan, aparat kepolisian langsung menggunakan gas air mata.

Padahal saat itu, tak ada eskalasi situasi massa yang terlihat. Sehingga tak perlu adanya penggunaan gas air mata untuk menertibkan massa.

Baca JugaPeneliti Kaspersky Temukan Penjahat Dunia Maya Sebar Trojan Berkedok Layanan Streaming Populer, Kumpulkan Data Pribadi KorbanKapolri Tegaskan Isu Penggunaan Private Jet oleh Brigjen Hendra Kurniawan Sedang Diusut

”Tahapan tersebut tidak dilalui oleh aparat kepolisian, jadi dalam konteks kasus ini kepolisian langsung menembakkan gas air mata, apa saja tahapan yang harus dilalui, pertama misalnya melakukan penggunaan kekuatan yang memiliki dampak pencegahan, tahap yang kedua ada juga perintah lisan atau suara peringatan begitu, tetapi hal itu tidak dilakukan, jadi tahapan yang seharusnya dilalui itu tidak dilakukan oleh aparat kepolisian dan langsung menembakkan gas air mata di situ,” ungkap Andi.

  • Sedangkan temuan keempat, yakni adanya peran TNI yang ikut melakukan tindak kekerasan pada tragedi di Kanjuruhan.

”Bahwa yang harus ditekankan dalam peristiwa ini, peristiwa tindak kekerasan tidak hanya libatkan anggota kepolisian tapi juga prajurit TNI, jadi itu yang kami temukan,” beber dia.

Baca JugaStrategi Intelijen Politik Megawati Soekarnoputri Tiru Operasi Khusus Ali Moertopo?Pria Diduga Penembak Mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan Tewas

  • Temuan kelima yakni soal gas air mata yang tidak hanya ditembakkan di area lapangan tetapi juga di berbagai sisi tribun. Tindakan itu yang membuat sejumlah penonton berhamburan meninggalkan stadion.

”Hal itulah kemudian yang mengakibatkan kepanikan luar biasa yang dialami para suporter kemudian berdesak-desakan untuk keluar stadion, teman-teman harus pahami bahwa efek dari gas air mata itu berdampak secara buruk dan fatal terhadap kesehatan manusia, tidak hanya berdampak pada jarak pandangan, tapi juga berdampak terhadap gangguan pernafasan seseorang,” kata Andi.

  • Temuan terakhir atau keenam yakni masih terkuncinya seluruh pintu stadion. Banyak dari para suporter meninggal karena lambatnya pertolongan pertama yang diberikan aparat saat itu.

Baca JugaKeberadaan Ponsel Brigadir J Belum Diketahui, Saksi Sebut Diserahkan ke Puslabfor PolriHasil Penyelidikan Sementara Polisi Tak Menemukan Dugaan Keluarga Tewas di Kalideres karena Kelaparan

”Ketika mereka terjebak di dalam stadion, kami melihat tidak ada, maksud saya belum ada terlihat pertolongan yang dilakukan secara segera baik oleh pihak aparat kepolisian maupun pihak panitia pelaksana, sehingga kami tidak jarang menemukan korban, anaknya meninggal akibat dari efek gas air mata dan tidak mendapatkan pertolongan secara segera,” pungkasnya.

Dalam peristiwa di Stadion Kanjuruhan, 131 orang dinyatakan meninggal dunia. Selain itu, ratusan suporter menjadi korban luka-luka. Penyebab kericuhan hingga kini masih didalami.

Akibat kejadian itu, enam orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah:

Baca JugaTerungkap ‘Skuad Lama’ yang Disinggung Brigadir J, Ternyata Kuat Ma’rufBerubah Total, Taman Ismail Marzuki Tandai Seniman Hebat Wakil Gelanggang Seni Dunia

  1. Akhmad Hadian Lukita, Dirut PT LIB;
  2. Abdul Haris, Ketua Panpel;
  3. Suko Sutrisno, Security Officer;
  4. Kabagops Polres Malang, Kompol Wahyu Setyo Pranoto;
  5. Danki 3 Sat Brimob Polda Jatim AKP Hasdarman;
  6. Kasat Samapta Polres Malang, AKP Bambang Sidik Achmadi.

Mereka dijerat Pasal 359 dan 360 KUHP serta Undang-undang Keolahragaan. Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian dan Pasal 360 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan luka berat. (*)

Kirim Komentar