SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Begini Awal Mula Dugaan Perusakan CCTV di Kompleks Ferdy Sambo Terungkap

Aditya Cahya BERI SAKSI
AKBP Aditya Cahya saat memberikan keterangan dalam sidang perkara obstruction of justice, Kamis (27/10/2022) pagi.

POLISI bernama Kompol Aditya Cahya Sumonang menceritakan awal mula dugaan perusakan CCTV di Kompleks Polri Duren Tiga diselidiki. Aditya mengatakan penyelidikan itu dilakukan usai barang bukti DVR CCTV yang diserahkan ke Puslabfor Polri ternyata kosong.

Kompol Aditya dihadirkan sebagai saksi di sidang kasus dugaan merintangi penyidikan pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat dengan terdakwa Brigjen Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria. Jaksa menyebut Aditya berstatus sebagai pelapor dugaan perusakan barang bukti kasus pembunuhan Yosua. Aditya juga merupakan salah satu anggota tim khusus untuk mengusut pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat.

Aditya awalnya mengaku mendapat informasi dari Puslabfor Polri kalau DVR CCTV Kompleks rumah dinas Ferdy Sambo yang disita terkait peristiwa pembunuhan Yosua kosong alias tidak ada rekaman apa pun. Dia kemudian mulai melakukan penyelidikan setelah mendapat informasi itu.

Baca JugaTimnas Indonesia U-17 Digulung Malaysia 1-5, Bima Sakti: Saya Bertanggung Jawab Atas Kekalahan IniBerikut Poin-poin Kesaksian yang Terungkap Para Saksi di Persidangan Bharada E

Aditya kemudian datang ke kompleks Sambo. Dia mewawancarai sekuriti kompleks rumah dinas Ferdy Sambo bernama Marjuki pada 8 Agustus 2022.

“Kurang lebih pada Agustus dapat laporan dari Puslabfor bahwa DVR CCTV masih kosong. Setelah itu kami wawancara Pak Marjuki dan menyerahkan ada dus CCTV yang diambil dari situ mulai penyelidikan, penyidikan kasus ini,” kata Aditya saat bersaksi di PN Jaksel, Kamis (27/10/2022).

Baca JugaTangis Ibu Brigadir J Pecah, Rosti Simanjuntak: Saya Secara Manusia Rasanya Hancur Menerima Duka IniGrab Indonesia Bantah Klaim Yusuf Mansur Pernah Sebagai Komisaris Grab Holdings Limited

“Sudah duluan disita DVR-nya? Yang nyita siapa?” tanya jaksa.

“Yang lakukan penyitaan Polres Jaksel, sudah dilakukan penyitaan terlebih dahulu karena itu berkaitan kasus kematian Yosua,” ucap Adit.

Aditya menyebut Marjuki kemudian menunjukkan dus DVR yang kemudian dicocokkannya dengan DVR yang disita. Menurutnya, dus itu cocok dengan DVR yang ternyata kosong.

“Kami wawancara Pak Marjuki, dia bilang ‘Pak, dusnya masih ada’, dari situ kami cocokkan nomor DVR-nya dari situ kami sudah menemukan isinya tidak ada,” ujar Adit.

Baca JugaBharada E Ungkap Ferdy Sambo Sudah Pisah Rumah dengan Putri CandrawathiSejumlah Fakta Berupa Chat Satu Arah Penuh Emosi Negatif di Ponsel Keluarga Kalideres

Dalam persidangan ini, DVR CCTV yang disebut kosong itu juga ditampilkan jaksa. Hakim juga sempat mengonfirmasi perihal dus itu ke dua terdakwa, yakni Brigjen Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria.

“Jadi barang ini yang dicopot, dusnya masih ditinggal di sana. Kalau dus yang ini, ini punya yang baru,” kata Aditya sambil memegang DVR CCTV yang disebut kosong.

“Terdakwa kenal barang bukti ini?” tanya hakim.

“Tidak kenal,” kata Hendra.

“Tidak pernah lihat Yang Mulia,” jawab Agus.

Aditya mengatakan 8 Agustus 2022 dirinya melakukan wawancara dan menemukan dus CCTV. Kemudian, 9 Agustus 2022 Aditya melaporkan dugaan perusakan dan hilangnya barang bukti elektronik Kompleks Duren Tiga ke Mabes Polri. Pada 10 Agustus 2022, kasus ini naik ke penyidikan.

Baca JugaProses Visum Bakal Lebih Mudah, Dokter Forensik Imbau Korban Kekerasan Seksual Tidak Menunda Pelaporan ke PenyidikBarang Bukti Kasus Tewasnya Brigadir J dan Obstruction of Justice, Salah Satu Barbuk yang Dilimpahkan 3 Pistol

Brigjen Hendra dan Kombes Agus Didakwa Merintangi Kasus Pembunuhan Yosua

Brigjen Hendra Kurniawan dan Kombes Agus Nurpatria didakwa merusak CCTV yang membuat terhalanginya penyidikan kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat.

“Terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apapun yang berakibat terganggunya sistem elektronik dan/atau mengakibatkan sistem elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya,” ujar jaksa saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Rabu (19/10).

Brigjen Hendra dan Kombes Agus didakwa bersama Ferdy Sambo, AKBP Arif Rachman Arifin, Kompol Chuck Putranto, Kompol Baiquni Wibowo, dan AKP Irfan Widyanto. Mereka didakwa dengan berkas terpisah.

Baca JugaSepekan Persidangan Kasus Dugaan Pembunuhan Berencana Brigadir J, Terungkap Fakta-Fakta BerikutPolisi Periksa 34 CCTV di Stadion Kanjuruhan

Hendra dan Agus didakwa dengan Pasal 49 juncto Pasal 33 dan Pasal 48 juncto Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dan Pasal 233 KUHP dan Pasal 221 ayat 1 ke-2 juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. (*)

Kirim Komentar