SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Angkatan Laut AS Temukan 70 Ton Komponen Bahan Bakar Rudal Tersembunyi di Kantong Pupuk dari Iran

20221114231152 63731bc2821cf083b8228477jpeg
(Sonar Technician 1st Class Kevin Frus/U.S. Navy via AP)

ANGKATAN Laut Amerika Serikat menemukan 70 ton komponen bahan bakar rudal yang tersembunyi di antara kantong-kantong pupuk di atas kapal yang berlayar dari Iran menuju Yaman.

Dalam pernyataannya pada Selasa, 15 November 2022, Angkatan Laut Amerika menyebutkan ini adalah penyitaan pertama dalam perang selama bertahun-tahun di Yaman ketika gencatan senjata gagal dilaksanakan.

Kapal Penjaga Pantai Amerika USCGC John Scheuerman dan kapal perusak berpeluru kendali USS The Sullivans menghentikan kapal layar kayu tradisional di Teluk Oman pada 8 November lalu.

Baca JugaBeredar Video Pengakuan Ismail Bolong Terkait Aktivitas Pertambangan Ilegal di Kaltim Diduga Dibeking Pati PolriSaat Lockdown, Kebakaran di Xinjiang China Tewaskan 10 Orang

Selama pencarian selama sepekan, para pelaut menemukan kantong amonium perklorat yang tersembunyi. Awalnya barang-barang tersebut tampak sedang mengirim 100 ton urea. Urea diketahui dapat digunakan untuk membuat bahan peledak.

Angkatan Laut Amerika menyatakan jumlah amonium perklorat yang ditemukan dapat memicu lebih dari selusin rudal balistik jarak menengah. Senjata yang sama yang digunakan pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran untuk menargetkan kedua pasukan yang bersekutu dengan pemerintah yang diakui secara internasional dan Koalisi Arab yang mendukung mereka.

Baca JugaPengacara Sebut Alasan Ricky Rizal Amankan Senjata Milik Brigadir J Sebelum Kejadian PenembakanFakta-fakta di Balik Tewasnya Satu Keluarga di Perumahan Citra Garden Satu Extension

Upaya mempersenjatai kembali pemberontak tampaknya dilakukan ketika Iran mengancam Arab Saudi, Amerika Serikat, dan negara-negara lain selama protes berbulan-bulan yang menyerukan penggulingan teokrasi Republik Islam.

Houthi tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar. Misi Iran untuk PBB juga tidak segera menanggapi permintaan komentar. (*)

Kirim Komentar